32 koleksi bertema Condrosengkolo by Iwan Tirta Batik Private Collection dipamerkan dalam Ciputra World Fashion Week 2017 hari ke tiga. Dikemas dalam sebuah fashion show eksklusif, fashion show yang dihadiri oleh para crème de la crème Surabaya ini digelar di Ballroom Eighty9, Ciputra World Surabaya. Ditemui setelah peragaan busana, Era Soekamto, creative director dari Iwan Tirta Private Batik Collection menjelaskan tentang tema koleksi runwaynya untuk tahun 2017 ini.
“Nama (koleksi)nya Condrosengkolo, untuk menyatakan bahwa semasa hidupnya Mas Iwan Tirta adalah maestro. Meneruskan legacy-nya adalah berfikir seperti maestro. Setiap motif-motif (batik) yang dikumpulkan oleh seorang Iwan Tirta ternyata mempunyai rahasia. Sadar atau tidak sadar, Mas Iwan Tirta mengumpulkan motif kuno yang memang ada codex-nya, seperti Da Vinci Code, yang dalam kebudayaan Jawa disebut Condrosengkolo”
Lebih lanjut Era Soekamto menjelaskan bahwa Condrosengkolo itu adalah codex dari setiap batik. Condro itu artinya bulan, sengkolo itu artinya hitungan. Motif-motif dalam sebuah kain batik itu adalah sebuah subliminal message, yang bisa berupa makna, pesan ataupun doa. Sehingga Condrosengkolo itu adalah sebuah kisah dari setiap motif-motif batik tentang keselarasan atara manusia dengan alam semesta. “Karena ruh yang di dalam itu seperti ruh yang ada di alam semesta.”
Dan konsep itulah yang digunakan oleh Era Soekamto untuk koleksi runway 2017-nya ini, sederhana kembali ke sederhana, ruh kembali ke ruh. Dibagi dalam empat kelompok, Akasa atau angkasa dengan nuansa warna biru yang menyimbolkan elemen langit berhias rasi bintang, Dahana-tirta atau air dan api yang menyimbolkan keseimbangan diwakili oleh motif naga dan gajah, Bawono atau tanah menyimbolkan bumi dengan gradasi warna coklat, dan elemen Maruto atau angin yang menyimbolkan tentang udara/gas ditunjukkan dengan warna-warna cerah.
Dalam kreasi karya-nya yang kabarnya membutuhkan waktu 2,5 tahun pengerjaan ini, Era benar-benar memperhatikan aspek Condrosengkolo itu, karena baginya perhitungan weton, tanggal lahir dan sebagainya dalam aspek perhitungan dalam budaya Jawa itu sangat advance dan penuh dengan spiritual science. “Condrosengkolo itu hitungan yang sarat dengan matematika, jadi perhitungan motifnya pun saya hitung betul wetonnya, saya hitung betul gradesnya, misalnya naga itu angka bilangan delapan kalau gurdo angka bilangan dua. Sementara kalau koleksinya banyak menggunakan cutting edge, ada manipulation of cutting, bentuknya sederhana tapi cuttingnya yang lebih complicated. Semuanya tadi adalah batik tulis, yang dikerjakan selama delapan bulan sampai satu tahun setiap kainnya. Jadi saya nggak mau memotong bahan. Jadi nggak buang kain. Karena every pieces itu ditulis dengan tangan.”
Era Soekamto, the Creative Director of Iwan Tirta Private Collection