Cinta (Tak) Bersyarat

10 Februari 2020 18:11 WIB

Cinta seringkali perkara berhitung. Saya kasih apa, saya dapat apa (atau sering kali juga berapa). Seperti bisnis. Semua perkara investasi dan keuntungan.

Nggak setuju?

Tunggu dulu.

Santai, Saudari!

Misal, investasi Anda secara fisik meliputi wajah glowing, alis beriring hasil sulam, implant dagu, gigi berkilau bersinar 40 watt, dipadu dengan kemampuan masak level Master Chef, keramahan, kesabaran, dan “ke-tidak-neko-nekoan”, tentunya ada mendamba pasangan yang sebaik-baiknya pria. Pria jantan kategori super secara wajah, hati, level setia, dan (moga-moga) isi dompet. Bukan?

Tapi perkara hitung-hitungan ini, cuma berhenti di urusan cinta pada pasangan. Urusan cinta diri sendiri kita lupa berhitung. Tubuh dianggap kendaraan gratisan, dipakai dan dipakai, sering lupa dibawa ke bengkel. Memilih meluangkan waktu dan dana untuk berburu sale akhir tahun daripada general check up lengkap dari ujung rambut ke kaki. Mati-matian diet dengan segala pil atau injeksi kanan-kiri daripada meluangkan waktu untuk berolahraga dan bijak pilih makanan sehat. Maunya hasil, eh lupa atau nggak mau melewati proses. Tubuh jarang diterima sepenuhnya sebagai berkat. Yang ada sibuk menghitungi biji jerawat di wajah, jumlah kerut di sudut mata, atau baris baru selulit di paha.

Urusan jiwa apalagi! Urusan nomer buncit. Nggak pernah diijinkan sungguh-sungguh rehat untuk sehat. Dibiarkan melewati kecewa, sedih, sakit hati, ambyar, tanpa sungguh-sungguh disembuhkan dan diterimakasihi untuk tabah menjalani. Mirisnya, terus-menerus dipaksa untuk tetap waras.

Saya dan Anda, dan semua perempuan di dunia, kadang lupa bahwa kita datang dengan bentuk dan isi yang berbeda, secara fisik juga mental. Yuk, sebisa-bisanya kita berterima penuh syukur dan menyempurnakannya semampu kita. Bukan, sama sekali bukan karena sempurna lebih baik, tapi karena tubuh dan jiwa berhak dapat kesempatan jadi versi terbaiknya. Berhenti jadi obyek! Lupakan standar cantik dan bahagia yang dipercaya umum, berhenti juga kagum ke kecantikan dan kebahagiaan orang lain, apalagi cuma berdasar yang terlihat di Instagram.

Standar bahagia dan cukup, sepenuhnya kita yang buat, kita yang tentukan. Berhenti pura-pura bahagia. Bahagia sejati, bukan cuma sebatas apa yang tampil di feed media sosialmu!



Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz