Bijak dalam mengasuh anak agar tidak terjadi overparenting

14 Mei 2019 23:21 WIB

 

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya sehingga rela melakukan hal apa pun demi memberikan yang terbaik untuk anak. Didukung dengan penelitian yang menunjukkan anak-anak yang mendapatkan cinta dan perhatian cukup dari orang tuanya, akan tumbuh menjadi anak yang tangguh dan tidak mudah merasa tertekan dan stres.

Sayangnya tindakan ini tanpa disadari justru menjadi boomerang bagi orang tua hingga muncul istilah overparenting.

“Overparenting mengacu pada upaya orang tua untuk ikut mengatur kehidupan anak secara mikro. Orang tua yang overparenting biasanya terus-menerus membayangi anak untuk memastikan bahwa anak membuat keputusan yang baik, melindunginya dari tanda-tanda ketidaknyamanan fisik atau emosional, dan mencegahnya menghadapi konsekuensi dari perilakunya,” urai Amy Morin, psikoterapis dan dosen psikologi di Universitas Northeastern di Boston, Amerika Serikat.

Overparenting biasanya berasal dari keinginan orang tua untuk mengelola ketidaknyamanan mereka sendiri karena mereka tidak bisa menolerir menyaksikan anak mereka terluka, gagal, atau membuat kesalahan.

“Di sisi lain, orang tua merasa bersalah karena mendisiplinkan anak mereka dan mereka menolak untuk menegakkan konsekuensi,” lanjut Amy Morin.

Meski tujuannya baik, overparenting memberikan dampak yang tidak bagik bagi kondisi psikologis anak. Yang paling menonjol adalah anak menjadi tidak percaya diri dan sangat bergantung pada orang tuanya.

 



Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz