Yuk mengenal pakaian tradisional Jepang, kimono

10 Januari 2018 16:08 WIB

Pakaian tradisional Jepang, Kimono, masih menjadi salah satu ikon fashion yang dianggap fashionable sampai saat ini. Walaupun sudah tidak banyak lagi dipakai oleh penduduk Jepang, khusunya oleh kaum perempuannya. Biasanya kimono dikenakan untuk saat-saat khusus saja, karena seperti yang kita tahu, Jepang termasuk salah satu Negara dengan banyak upacara dan tradisi yang sampai sekarang masih dipegang teguh oleh rakyatnya, meskipun Negara itu sudah masuk dalam era modern sekalipun.

Kata kimono secara sederhana dapat dairtikan sebagai sesuatu untuk dipakai. Terdiri dari kata ki (着), yang dalam bahasa Jepang artinya “untuk dipakai" dan mono (物), yang artinya “sesuatu/barang”.  Model kimono sebenarnya beragam, dari model kasual yang biasanya terbuat dari bahan sintetik sampai yang formal, yang biasanya sih terbuat dari bahan sutra maupun brokat. Harganya pun beragam, dari yang affordable sampai yang sangat  mahal. Jenis-jenis kimono yang dipakai bisa menunjukkan sebuah peristiwa dan status pernikahan anda, kecuali pe-sumo yang diharapkan untuk mengenakan kimono dalam keseharian mereka. Pada masa kini, kebanyakan perempuan Jepang hanya memiliki yukata dan memilih untuk menyewa ketika membutuhkan untuk memakai kimono. Hal itu terjadi karena umumnya harga kimono itu dikenal sangat mahal. Membeli kimono di toko secondhand juga marak di jepang saat ini.

Bagi orang Jepang, kimono merupakan standart tertinggi pakaian formal dan dengan pemakaiannya pada peristiwa-peristiwa tertentu menunjukkan penghormatan dan kesopanan mereka.

Mofuku untuk pemakaman

Mofuku adalah kimono berwarna hitam yang dikenakan khusus saat keluarga kehilangan orang yang dikasihinya, atau dipakai oleh sahabat-sahat dekat orang yang meninggal dunia. Sementara para tamu, biasanya memakai pakaian formal, kemeja dan jas hitam untuk lelaki dan perempuan memakai baju formal berwarna hitam

 

 

 

Iromuji untuk acara minum teh

Masyarakat Jepang masih sangat menghormati tradisi upacara minum teh mereka. Upacara minum the di Jepang menjadi sebuah acara yang perlu banyak persiapan dan sebuah pertunjukan penuh keanggunan dan etiket. Baik sang pengundang dan sang tamu wajib memakai kimono, baik lelaki maupun perempuan. Iromuji atau kimono untuk event-event formal yang terbuat dari kain tenun dengan satu warna yang dipadukan dengan obi yang biasanya terbuat dari brokat. Hal ini dilakukan agar para tamu berfokus pada upacara minum tehnya, bukan corak busana yang dikenakan. Iromuji juga bisa dikenakan untuk event-event lainnya baik yang semi formal sampai event yang mewah.

 

kiri : iro tomesode ; kanan : kuro-tomesode 

Tomesode untuk pesta pernikahan

Kimono tomesode mempunyai karakteristik kimono bagian atas plain tanpa hiasan, sementara bagian bawah kimono biasanya dihias dengan bordir atau foil atau haisan laiinya. Ada dua jenis tomesode, yaitu kuro-tomesode dan iro-tomesode. Kuro-tomesode diangap sebagai jenis kimono paling anggun diantara jenis kimono lainnya. Biasanya dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah dan khusus untuk acara-acara yang formal, salah satunya adalah pernikahan. Biasanya kuro-tomesode dikenakan oleh ibu sang pengantin atau kerabat dekat dari pengantin. Kuro-tomesode biasanya berwarna hitam dengan bagian bawah dibordir dengan bentuk hiasan yang indah. Kuro-Tomesode biasanya memiliki lima buah mon puncak/(lambang keluarga), yang biasanya berbuntuk lingkaran kecil berwarna putih dengan pattern khusus. Sementara iro-tomesode warna-warnanya lebih terang. Untuk menentukan apakah iro-tomesode itu sangat formal atau tidak tingkatannya bisa dilihat pada mon. Kalau jumlah mon pada tomesode berjumlah lima, maka kimono iro-tomesode itu tingkatan nya sama seperti kuro-tomesode, namun kalau hanya tiga, kimono itu bisa dikenakan pada event-event yang lebih kasul. Iro-tomesode bisa dikenakan oleh perempuan yang sudah maupun yang belum menikah.

 

Furisode untuk momen-momen khusus perempuan lajang.

Furisode adalah kimono formal, terbuat dari bahan sutra dengan pattern-pattern menarik yang berwarna cerah. Ciri khas lainnya terletak apda bagian lengan kimononya yang panjang berayun. Semakin panjang bentuk lengannya, semakin tampak formal kimono itu. Biasanya digunakan oleh para perempuan yang belum menikah untuk beberapa moment penting dalam hidupnya, dari Seijin Ni Ho (perayaan menuju kedewasaan) sampai untuk pernikahannya. Yup, furisode bisa dipakai sebagai pakaian terakhir/puncak yang dikenakannya pada hari terakhirnya menjadi perempuan menjadi lajang.

 

Yukata, jubah cantik untuk musim panas.

Bagi kebudayaan Jepang, Yukata tidak termasuk dalam kelompok kimono. Yukata merupakan jubah yang simpel, berbahan katun dengan tekstur yang tipis, mudah dipakai dan harganya tidak semahal kimono. Pada jaman dahulu, yukata dikenakan setelah mandi. Biasanya dipakai untuk moment-moment kasual terutama saat menyambut musim panas. FYI womanblitzers, Jepang dipenuhi berbagai festival saat musim semi sampai musim panas. Warna biru gelap dan putih diaggap warna Yukata yang paling klasik, meskipun saat ini sudah banyak yukata berwarna-warni, dengan pattern yang beragam, dari bunga sampai geometri.



Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz