"Happy Woman" Kisah Inspiratif dari Mereka Survivor Mental Health Issues

11 Oktober 2018 14:19 WIB

 

Isu-isu tentang kesehatan mental semakin menjadi sorotan yang selalu menarik banyak perhatian. Penyakit yang menyerang kesehatan mental ini dapat menyerang siapa saja tak terkecuali perempuan. Banyak perempuan-perempuan yang mengalami gangguan kesehatan mental ini. Namun, faktanya, masih banyak perempuan di luar sana yang mengalami ganguang kesehatan mental namun tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Berikut kisah dari mereka yang selamat dan berhasil hidup setelah melawan dan berjuang dengan mental health issues mereka.

 

Pamela Octavia – 31 Tahun

 

(Pamela Octavia)

Sebagai seorang ibu yang baru saja melahirkan anak pertamanya, sudah sewajarnya Pamela ingin memberikan yang terbaik untuk sang anak. Mulai dari memberikan kasih sayang, perawatan terbaik hingga memberikan ASI ekslusif untuk sang buah hati. Namun, ada suatu titik di mana Pamela merasa bahwa ia tidak berdaya sebagai seorang ibu. Ternyata ASI Pamela tidak lancar sehingga keinginannya untuk memberikan ASI Ekklusif untuk sang buah hati pun sirna. Hingga akhirnya Pamela mengalami Post Partum Depression atau depresi pasca melahirkan.

Ketika mengalami PPD tersebut, Pamela sempat menolak untuk memegang sang anak. Pamela merasa cemas ia akan melukai sang anak karena pada waktu itu ia masih belum bisa memandikan anaknya sendiri. Pamela juga sampai berada di suatu titik di mana ia mencoba untuk mengakhiri hidupnya hanya setelah 2 bulan pasca melahirkan.

Setelah beberapa kali berusaha untuk mengakhiri hidupnya namun gagal, Pamela pun mencari bantuan dengan mengunjungi psikiater. Di sana akhirnya Pamela mendapatkan bantuan untuk mengatasi post partum depression yang ia derita. Peran keluarga yang selalu ada dan mendukung adalah suatu hal yang penting dalam mencegah atau pun mengobati depresi.

 

Sisca Maya – 41 Tahun

 

(Sisca Maya)

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang lain. Ada suatu kepribadian yang dinamakan kepribadian ambang yang bisa disebut borderline. Sisca mengalami Borderline Personality Disorder atau gangguan emosi tidak stabil. Gangguan mental ini membuat Sisca gampang merubah emosinya dari marah hingga ultra sensitif. Sampai pada di suatu titik ia merasa sangat depresi dan dirinya merasa sangat low. Sisca pun merasakan seluruh tubuhnya merasakan sakit namun hasil cek kesehatan tak ada yang salah dengan fisik Sisca.

Sisca hidup dengan Ayah dan Ibu yang bercerai. Tak hanya itu, setelah kepergian adiknya ia merasa hidupnya semakin tidak berguna karena adiknya lah yang paling berperan dalam hidup Sisca. Sisca pun sampai pada tahap untuk mencoba mengakhiri hidupnya. Pada tahap ini peran keluarga, sahabat dan ahli sangat membantu untuk kepulihan Sisca.

Para penderita borderline personality disorder mudah marah ataupun sedih hanya dengan hal sepele. Mereka merasa takut akan penolakan dan ditinggal. Mereka akan merasa sangat down jika meraka ditolak ataupun diabaikan.

Setiap peran orang terdekat sangat berpengaruh dalam menjaga kesehatan mentas seseorang. Bahkan hal sederhana seperti mengucapkan kata “Hai” dapat membantu mereka untuk merasa dibutuhkan dan berharga untuk hidup di dunia ini.

Tidak ada hidup yang sempurna. Seseorang yang bisa beradaptasi dalam lingkungan negatif itulah yang terbaik. Tidak pernah ada pilihan yang sempurna. Seseorang dapat memilih sesuatu yang terbaik  dan menjalaninya sdengan rasa syukur dan melanjutkan hidup.

 

 

 

 

 



Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz