Ignition Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ke 2 di Surabaya

5 September 2016 08:21 WIB

Sebagai Kota kedua terbesar, Surabaya memiliki ekosistem startupdigital yang berkembang dengan pesat. Karena itulah Ignition tahap kedua Gerakan Nasional 1000 Startup Digital kembali digelar di Surabaya pada Sabtu, 3 September kemarin. Sebagai kota yang memiliki potensi yang sangat baik untuk perkembangan tech-startup di Indonesia, Surabaya menjadi saksi perjuangan anak muda yang memiliki semangat untuk menjadi co-founder startup yang memberikan solusi bagi banyak orang. Tidak sekedar berbisnis atau berkompetisi, melainkan mampu untuk menyelesaikan masalah orang banyak.

Tak hanya para pria yang dihadirkan dalam perbincangan menarik ini. Narasumber perempuan yang menginspirasi juga ditampilkan untuk menyemangati generasi muda.

Ignition Gerakan Nasional 1000 Startup kali ini menyajikan sejumlah pembicara yang kompeten di bidang technopreneurship diantaranya seperti Yohan Totting (Inisiator FOWAB), Calvin Kinaza (CEO PicMix), Gibran Huzaifah (CEO eFishery), Rama Notowidigdo (Chief of Product GO-JEK), Vikra Ijas (CMO Kitabisa.com), Benson Kawengian (CEO Urbanhire), Ronal Ishak (CEO Hacktiv8), dan Sanny Gaddafi (CEO 8villages) akan berbagi ilmu dan pengalaman yag menginspirasi kepada 250 peserta.

Terdapat lima sesi yang menjadi fokus acara ini yakni The Startup Journey, Don’t Start a Business, Solve a Problem, Think Like a Founder, Creativity 101, dan Collaborate to Create Innovation.

Dalam sesi terakhir panelist yang dihadirkan diantaranya Aria Ajasa (Founder Tees.co.id), Febri A. Nazuka (CEO Brosur Kilat), Sanny Gaddafi (CEO 8villages) dan dimoderatori oleh Leonika Sari (CEO Reblood). Menurut mereka untuk membuat inovasi tidak harus sesuatu yang baru, inovasi bisa diadaptasi dari inovasi-inovasi sebelumnya. Hal yang tertpenting adalah bagaimana inovasi tersebut bisa bermanfaat dan menjadi solusi bagi orang lain. Untuk melahirkan suatu inovasi diperlukan kolaborasi yang mengakar dan mengkolaborasikan kekuatan satu sama lain. Kolaborasi tersebut harus memberikan value.

Ketika ditanya bagaimana membuat startupyang gagal bisa bangkit kembali Aria menjawab, “Ketika kita salah, kita harus bertanggung jawab, koreksi diri dan pastikan kesalahan itu tidak terjadi lagi”. Menurut Febri, potensi dan ide anak-anak Surabaya luar biasa tapi kebanyakan salah pada valiadasinya. “Mereka mengamati sesuatu lalu mempunyai ide tapi belum mengalami dan akhirnya memberikan solusi, yang tepat adalah diamati, dialami lalu barulah memberikan solusi”, ujarnya.

 

Jadi dalam membentuk suatu bisnis mulailah menyelesaikan masalah dengan kolaborasi, jangan pikirkan kompetisi tetapi dengan saling bekerjasama untuk melahirkan solusi. “Menjadi enterpreneur itu lifestyle, Anda harus mempunyai mental di sana dan berani beradaptasi”, tambah Sanny Gaddafi dalam sesi terakhir tersebut.



Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz