4 ibu aktivis di dunia yang menginspirasi

15 Mei 2018 15:38 WIB

 

Banyak negara di dunia yang sedang merayakan Mother’s Day pada minggu ini. Seorang ibu adalah seorang agent of change di rumah. Perubahan terjadi pertama kali dilakukan di rumah dan seorang ibu berada di barisan terdepan untuk memberikan perubahan untuk masa depan anak. Inilah 4 aktivis perempuan yang juga seorang ibu dan berjuang untuk hak-hak perempuan serta kesetaraan hak.

 

1. Anne Hathaway berbicara untuk peraturan cuti hamil di Amerika Serikat

“Aku memikirkan bagaimana aku bisa membagi porsi dengan seimbang antara karir dan menjalankan peran seorang ibu, dan peraturan pemerintah Amerika Serikat akan cuti hamil melintas di benakku.” Anne Hathaway pada pidatonya untuk memperingati International Women’s Day tahun lalu. Sebagai seorang Aktris, Istri, Ibu dan Ambassador UN Women Goodwill, Anne Hathaway berjuang untuk meningkatkan kesadaran akan isu peraturan cuti hamil sebagai penghalang terbesar akan kesetaraan gender di Amerika Serikat. Dari pengalaman pribadi Anne yang tidak memiliki cukup waktu bersama sang ayah, momen di mana ia menjadi ibu, semua itu menjadi alasan untuknya untuk membuat perubahan. Anne mendukung untuk diadakannya layanan pengasuhan anak yang terjangkau dan juga peratuan untuk membagi cuti hamil bagi Ibu dan Ayah. Kebijakan ini akan sangat berdampak nyata di dalam keluarga

 

2. Irinea Buendia memperjuangkan keadilan di Meksiko

“Selama bertahun-tahun aku telah menderita tak hanya karena teror pembunuhan dan kehilangan puteriku namun juga saat berurusan dengan pihak berwenang dan lembaga hukum dengan kekebalan hukum dan korupsi yang meraja-lela di pemerintahan.” Irinea bercerita pada UN Women. Irinea masih sangat ingat hari ia melihat putrinya Mariana Lima untuk yang terakhir kali. Putri Irinea meninggal pada peristiwa femicide atau feminicide, sebuah peristiwa pembunuhan perempuan yang berdasarkan gender. Sejak saat itu, Irinea memperjuangkan keadilan untuk puterinya. Berkat perjuangannya, Mahkamah Agung Meksiko mengeluarkan peraturan bersejarah untuk mendukung Iriena dan melarang kegiatan femicide karena telah menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia, para pelaku pun akhirnya ditangkap dan diinvestigasi sebagai kasus femicide.

 

3. Jaha Dukureh menolak FGM (Female Genital Mutilation) di Gambia

Jaha Dukureh adalah regional Ambassador UN Women Goodwill Afrika. Ia adalah seorang perempuan sekaligus ibu dan juga pemimpin dari gerakan penolakan Female Genital Mutilation dan pernikahan anak, setelah dirinya sendiri mengalami FGM dan juga dipaksa untuk menikah dini pada usia 15 tahun. Jeha menginginkan keadaan berbeda untuk puterinya. “Semua berawal ketika aku mengandung anak perempuanku, aku memulai bersuara untuk menolak FGM. Aku tak ingin puteriku kelak mengalami apa yang harus aku alami. Masih banyak perempuan di luar sana seperti anakku kelak yang tak memiliki siapapun untuk menyuarakan hak mereka. Jika itu bukan aku, lalu siapa lagi?” Jaha memulai gerakannya dari menulis blog, membuat organisasi menolak FGM dan mendaftarkannya untuk petisi change.org, sampai meminta President Obama untuk menginvestigasi kasus FGM ini. Di tahun 2016, Institusi Perdamaian Amerika Serikat menyelenggarakan KTT untuk mengakhiri FGM untuk pertama kali.

 

4. Mosammat Kamrunnaharis mencegah ektremisme kekerasan di Bangladesh

Di Dinajpu, daerah pinggiran di utara Bangladesh, perempuan dan komunitasnya telah mulai menyadari akan pentingnya perempuan menjadi bagian dalam pengambilan keputusan di lingkungan yang akan membuat masyarakat lebih tertib dan damai. Perempuan seperti Mosammat dan yang lainnya telah bekerja bersama untuk mencegah ektremisme kekerasan di lingkungan mereka. Dikenal dengan nama “Polli Shomaj Women” sebuah komunitas perempuan bergabung bersama untuk membicarakan apa yang sedang terjadi dan membahas cara untuk mencegah ektremisme kekerasan yang sedang terjadi di sekitar mereka. Kurang dari setahun sejak program ini dimulai, lingkungan mereka telah mengalami perubahan, “Sebelumnya tak banyak yang tahu apa itu ektremisme atau kegiatan yang mereka lakukan termasuk kekerasan. Masyarakat mulai menyadari itu dan memikirkan cara untuk mencegah ektremisme kekerasan itu agar tidak terjadi,” jelas Mosammat Kamrunnaharis.

 

Photos source: UN Women

Cover source: Getty Images

 

 



Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz